Sejuta Kepiting Rebus Sialan!

Belajar filsafat secara akademik itu ternyata gak enak. Bayanganku tentang teduhnya berfilsafat sudah langsung sirna dengan sendirinya begitu menghadapi paparan para filsuf yang sangat argumentatif. Pun gairah untuk berargumentasi dengan ketat pun langsung sirna, begitu mendapati lingkungan belajar yang tidak berbeda dengan bidang-bidang lain. Sekolah tetaplah sebuah realitas yang lengkap dengan intrik-intrik politik dan orang-orang eksentrik, presentasi-presentasi yang sepi perhatian, termasuk juga keluhan-keluhan para karyawan pendukung gerak institusi yang merasa tak diperlakukan adil. Sampai hari ini aku menyimpulkan bahwa belajar filsafat di sekolah itu sucks!

Lalu sekarang buat apa aku terus belajar di sana? Nah, itu pertanyaan yang aku gak bisa jawab. Semakin aku cari tahu, semakin gak ketemu. Siklus paradoks yang menyebalkan. The moment you ask yourself whether you are happy or not, the sudden you’ll realize how unhappy you are. Bahkan pengkondisian kritis akan kehidupanku yang mungkin esok akan berakhir tidak lagi cukup untuk membuatku mau duduk dan membuat PR ku. 

Lalu apa yang harus aku lakukan? Tidak ada. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan tugas, tidak ada juga alasan untuk mengerjakannya. Absurd. Tanpa makna. Begitu saja, aku terserak di sana. Dikutuk untuk bebas, untuk memilih apa yang harus atau ingin aku lakukan dengan pengetahuan bahwa tak ada makna dan arti atas apa pun yang aku lakukan atau tak aku lakukan. Sial. Sejuta kepiting rebus kapten Haddock pun tak mampu menyumpal serapahku malam ini.

Sial! Sungguh sial!