The Binary Me

Mungkin aku termasuk kelompok orang yang paling sering mengeluh. Aku sendiri merasa sebagai orang yang optimis, tapi tatapanku atas dunia ini sayu. Dunia ini lucu. Aku gak pernah bisa mengerti kenapa ada orang yang tega membunuh orang lain demi alasan apapun, dan ada saja orang yang rela mati demi alasan apapun. Apa sih hidup itu? Apakah hidup itu sebegitu berharganya hingga kita mesti bela mati-matian, pun jika kita mesti merengut hidup yang lain, demi kebermaknaan hidup kita? Atau hidup itu begitu gak berartinya sehingga kita dapat saja merelakannya demi apapun yang kita perjuangkan, demi kebermaknaan hidup?

Hidup direlakan atau hidup dipertahankan semuanya demi hidup yang bermakna. Dan dalam kebermaknaan hidup inilah aku timbul tenggelam. Kapan hidup harus dipertahankan? Kapan hidup harus direlakan?

Untuk apa hidup tanpa orang yang kita sayang? Untuk apa hidup tapi tak mampu menawar kepahitan orang lain? Untuk apa mati demi orang yang tak mengasihi kita? Untuk apa mati demi kepahitan dunia yang akan terus ada?

Untuk apa hidup? Untuk apa mati?

Orang-orang mencari makna hidupnya dalam diri orang lain, tapi makna itu tidak ada di luar sana, tapi di dalam sini. Namun dunia ini sudah ada sebelum aku, dan akan tetap ada sesudah aku. Dalam diri sendiri aku hanya sebuah kekosongan, kebolehjadian. Aku datang dan pergi. Ada dan tiada. Aku biner.