banci

Menurutku hidup para banci adalah yang paling melelahkan. Mereka harus selalu tampak ceria, apa pun mood mereka, dan apa pun perlakuan orang lain terhadap mereka. Well, ya mereka bisa marah, tapi seumur-umur aku belum pernah melihat banci yang pendiam. Mereka selalu tampak begitu optimis dan tulus, kalau penglihatanku salah, paling tidak mereka berusaha sangat keras untuk selalu begitu. Padahal hidup sebagai banci sangat tidak mudah, yah, gak usah disebut lah gimana perlakuan dan pandangan orang-orang tentang mereka, tapi mereka selalu (tampak) percaya diri dengan jalan hidupnya itu.

Aku gak tahu, menjadi banci itu sebuah pilihan atau itu murni karakter, sama seperti karakter pemarah atau penyendiri yang kita bawa sejak lahir. Tapi kalaupun itu karakter, kita bisa memilih ‘kan, mau menunjukkan karakter itu atau mengganti atau menutupinya dengan karakter lain yang menurut kita lebih tepat terhadap sebuah situasi atau lebih menguntungkan, atau lebih baik untuk diri kita sendiri. Aku sendiri menemukan para banci itu memiliki karakter yang sangat berbeda waktu kita menemui mereka secara personal, tidak secara publik maksudnya, seperti melalui telpon misalnya. Mereka menjadi sangat lain; mereka bisa menjadi sangat serius, intonasi suaranya tidak lagi fluktuatif hiperbolik, tapi tenang, datar dan serius. Jadi paling tidak banci pun punya mood datar, ia bisa memilih kapan menjadi banci, kapan menjadi pribadi yang lain. Di sini aku gak tau apakah “menjadi bukan banci” itu adalah karakter dirinya yang sebenarnya atau bukan, aku melihat “kebancian” sebagai satu dari sejumlah karakter yang bisa dipilih seseorang.

Lalu kenapa orang memilih menjadi banci? Well, mungkin di sini pengertian pilihan tidak serumit “pilihan” menjadi perempuan, seperti yang Simone de Beauvoir bilang “One is not born a woman, one becomes one” karena perempuan bukan sebuah karakter dalam pembahasan ini, walau seseorang bisa meragukan hal itu dengan merujuk pada karakter feminin pada Yin misalnya. Tapi bukan itu maksudku.

Kenapa orang memilih menjadi banci? Apa itu adalah salah satu upaya agar bisa masuk ke dalam kelompok pergaulan tertentu? Apakah karena karakter banci yang hingar bingar itu dianggap lebih mudah diterima orang? Dianggap harmless, sincere? Secara umum orang-orang memang lebih menyukai pribadi yang gembira. Dalam kelompok-kelompok pergaulan umumnya ada saja yang mengambil peran banci, menjadi “pusat” keramaian dan menjadi sahabat buat semua anggota kelompok. Lalu, apakah menjadi banci adalah usaha untuk diterima dalam kelompok pergaulan? Apakah hanya semata-mata itu? Karena toh kamu ‘kan gak perlu menjadi banci hanya untuk bisa diterima di pergaulan tertentu? Lalu gimana dengan para banci yang mengamen di jalan? Apakah motivasi mereka ingin diterima masyarakat? I don’t think so. Malah kebalikannya, mereka selalu dilecehkan dan dimaki orang-orang. Mungkin ya, menjadi banci lebih mudah menarik perhatian orang, lebih gampang dapat receh, tapi ada banyak gaya lain ‘kan yang bisa dipilih untuk menarik perhatian orang? Satu lagi ketakmengertianku, kenapa tak ada pria berusia lanjut yang menjadi banci?  

Entahlah, para banci adalah orang-orang yang misterius untukku. Aku gak bisa membayangkan betapa lelahnya mereka di malam hari, di saat mereka sendiri. It must be one hell tiring day for him, to be finally able to put down the mask, the gown, the glittery outfit, and face his inner self alone. Well, gak perlu jadi banci juga sih untuk mengalami momen kesendirian kayak gitu. Kita semua pun demikian. Dengan peran kita masing-masing, kita mengenakan satu set topeng berikut pernak-perniknya, menanggalkannya untuk kemudian menggantinya dengan set perlengkapan peran yang lain. Seperti peran suami, peran istri, peran anak, peran pegawai, peran guru, peran murid, peran pemimpin perang, peran pemimpin negara, peran selebritas, dlsb. Masalahnya ketika kita bisa punya banyak pilihan peran, kenapa mesti menjadi banci? Peran itu terlalu menyakitkan; terlalu disepelekan orang, terlalu dilecehkan. Terlalu sulit untuk tetap ceria dan gembira di atas semua cibiran itu. Atau mungkin para banci tidak pernah merasa sakit hati atas semua perlakuan itu karena mereka memang selalu optimis dan gembira?

Aku gak ngerti..